Destinasi Wisata

Wisata Alam

Pesona Kumejing

Desa Kumejing memiliki potensi wisata alam yang indah, salah satunya adalah Pesona Kumejing. Pesona Kumejing terletak di ujung paling barat Waduk Wadaslintang. Di sini terdapat dermaga yang dulu biasa dipakai warga untuk beraktivitas menggunakan perahu. Sekarang banyak wisatawan yang datang ke dermaga ini untuk menikmati keindahan alam yang dapat dilihat dari Pesona Kumejing. Jika air waduk tidak surut, wisatawan dapat bersantap di rumah apung yang mengambang di permukaan air. Kemudian, hanya dengan tarif Rp30.000/orang, wisatawan dapan menyewa banana boat selama 30 menit dan merasakan sensasi keindahan alam yang dimiliki area Waduk Wadaslintang.

Pemandian Air Panas Kalianget

Pemandian Air Panas Kalianget terletak di Dusun Kalianget, Desa Somogede. Selama bertahun-tahun mata air yang mengeluarkan air hangat itu telah membawa banyak manfaat kepada warga sekitar dan pengunjungnya. Dengan membayar Rp3.000/orang, pengunjung bisa menikmati air panas untuk mandi ataupun untuk terapi. Pada tahun 2002, bangunan berupa bilik-bilik kamar mandi dibangun. Ada lima kamar mandi yang bisa digunakan, mulai dari kamar satu sampai kamar lima. Kamar satu adalah kamar dengan aliran air yang paling murni dan paling panas Air ini pun telah digunakan untuk sarana terapi berbagai jenis penyakit, seperti gatal-gatal, asam urat, stroke, dan lain-lain.

Bukit Siloreng

Bukit Siloreng Indah terletak di Dusun Karangsari, Desa Somogede, Kecamatan Wadaslintang. Di sini wisatawan dapat menikmati keindahan alam Indonesia secara langsung. Destinasi wisata ini bernama Siloreng karena konon dahulu kala terdapat banyak kucing besar alias macan di sana. Kini, Bukit Siloreng Indah merupakan destinasi wisata alam yang menawarkan keindahan alam hutan pinus, pemandangan dari atas bukit, hingga fasilitas bermain flying fox. Hutan pinus yang rindang menjadi salah satu daya tarik yang bisa digunakan untuk latar berfoto ria. Bermodalkan Rp5.000 per orang, pengunjung bisa menikmati keindahannya.

Wisata Sejarah & Religi

Makam Wirid Al-Ghozali dan Kyai Sambung

Di Dusun Kedungbulu, Desa Kumejing, terdapat sebuah kompleks makam Kyai-Kyai Desa Kumejing. Kompleks makam ini dinamakan Makam Wirid Al-Ghozali. Kyai Al-Ghozali sangat berjasa bagi penduduk Desa Kumejing. Beliau melanjutkan perjuangan ayahnya, Mbah Kyai Nangim, dalam menyebarluaskan ajaran Islam di Desa Kumejing dan sekitarnya. Sewaktu muda, Kyai Al-Ghozali bersama rekan-rekan pergi ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama Islam. Setelah kembali ke Kumejing, Kyai Al-Ghozali menyebarkan ilmu yang ia dapat. Lama-lama ia mempunyai banyak pengikut.

Sampai sekarang masih banyak yang mengamalkan ajaran wirid dari Kyai Al-Ghozali. Ada pengajian wirid setiap bulan Rajab. Selain bulan Rajab pengajian wirid diadakan setiap hari Selasa dan Jumat, saat Dzuhur dan Jumatan. Selain itu, pengamalannya juga dilakukan setiap hari. Santri dari Kyai Al-Ghozali tidak hanya berasal dari warga lokal, tetapi dari berbagai daerah di Indonesia. Makam Kyai Al-Ghozali tidak diberi nisan atau diberi bangunan, karena beliau hanya berkenan ditandai dengan hal yang memang alami (misalnya pohon). Bagi pengikut (santri) yang ikut menghafalkan wirid yang diajarkan Kyai Al-Ghozali dapat dimakamkan di Makam Wirid Al-Ghozali. Beliau juga mendirikan sebuah mesjid agar masyarakat dapat beribadah bersama-sama.

Selain Kyai Al-Ghozali, juga terdapat seorang Kyai yang juga dihormati di Kumejing dan juga dimakamkan di kompleks Makam Wirid Al-Ghozali, beliau adalah Kyai Sambung. Kyai Sambung adalah satu orang yang dituakan di Kumejing. Ia dulunya pengikut Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda, pengikutnya lari. Salah satunya adalah Kyai Sambung. Kyai Sambung berdakwah jauh sebelum Kyai Ghozali, walaupun keduanya sama-sama berasal dari Kebumen. Kyai Al-Ghozali berasal dari Bandung Sruni, Kebumen, sedangkan Kyai Sambung berasaldari Rejosari, Kebumen, daerah Kota Winangun.

Makam Syeikh Jalaluddin

Syeikh Jalaluddin Suyuti merupakan ulama dari Irak. Beliau menghabiskan usianya untuk mengajarkan agama Islam di Kebumen, tetapi meninggal dunia di Lancar, Wadaslintang, pada tahun 1518 M. Beliau lalu dikebumikan di Dusun Kalianget, Desa Lancar, Wadaslintang, Wonosobo.

Mengenai makam yang sekarang diyakini sebagai pusara Syeikh Jalaluddin Suyuti, mula-mula masyarakat tidak mengetahuinya. Mereka tidak tahu di sana bersemayam seorang ulama yang berjasa besar mengislamkan penduduk sekitar. Hingga kemudin para Kyai setempat menunjukkan bahwa itu adalah makam Syeikh Jalaluddin Suyuti. Sejak saat itu, masyarakat menjaga dan merawat makam. Membersihkan dan mendirikan di atasnya bangunan yang layak. Pada tahun 1991, mereka secara swadaya merenovasi makam hingga bentuknya seperti sekarang ini. Sederhana tapi apik. Untuk memperingati Syeikh Jalaluddin Suyuti, setiap tahun masyarakat mengadakan haul di lokasi makam. Peziarah pun ramai. Mereka datang dari berbagai daerah.

Salah satu peziarah yang senantiasa diingat penduduk setempat adalah Presiden RI ke-4, Gus Dur. Meski ramai peziarah, akses menuju makam belum lah memadai. Jalan menuju makam belum beraspal. Bahkan petunjuk yang memandu ke lokasi makam pun masih terbatas. Hanya ada plang kecil di pinggir jalan Desa Lancar yang bertuliskan makam Syeikh Jalaluddin Suyuti. (sumber)

Petilasan Pangeran Diponegoro

Bukit Siloreng Indah yang dikenal akan keindahan alamnya menyimpan potensi lain yang bersejarah. Di balik pohon-pohon pinus yang tinggi nan rindang, terdapat batu yang konon menjadi tempat singgah atau petilasan Pangeran Diponegoro dua ratus tahun yang lalu. Pangeran Diponegoro, sang santri dari Keraton, kala itu sedang berperang gerilya dengan pasukan kolonial Belanda. Ia adalah tokoh yang teguh dalam pendiriannya untuk tidak bernegosiasi dengan pemerintah kolonial dan memeluk erat nilai-nilai Islam yang ia percayai. Perang Jawa yang kala itu berkecamuk meninggalkan sebuah peninggalan penting, yakni petilasan Pangeran Diponegoro. Kabupaten Wonosobo (dahulu dikenal dengan nama Ledok) memang merupakan daerah yang strategis untuk melakukan perang gerilya. Keadaan alamnya yang berbukit-bukit mempersulit pasukan kolonial Belanda dan menguntungkan pasukan perlawanan Pangeran Diponegoro dan rakyat lainnya. Konon ceritanya Pangeran Diponegoro pun menancapkan teken atau tongkat yang ia gunakan untuk berjalan di dekat tempat singgahnya itu. Tongkat tersebut tumbuh menjadi pohon tanjung yang berdiri kokoh hingga tahun 1980-an. Kini, petilasan Pangeran Diponegoro di Bukit Siloreng Indah tertutupi dahan dan ranting pohon yang tumbuh di sekitarnya. Tidak ada orang yang berani membersihkan ataupun menyentuhnya karena petilasan tersebut dinilai kramat. Karena itu, daerah sekitar petilasan Diponegoro terlihat berbeda dari bagian lain di Bukit Siloreng Indah. Orang yang mengunjungi petilasan Pangeran Diponegoro tersebut pun dilarang untuk meludah atau berkata kasar.

Wisata Agro dan Edukasi

Bunga Desa Farm

Bunga Desa Farm adalah sebuah perkebunan bunga yang terletak di Desa Lancar. Berbagai jenis bunga ditanam di dalam greenhouse yang berukuran 25×7 meter. Salah satu bunga yang ditanam adalah bunga krisan dengan 12 varietasnya. Jika masa panen tiba, tidak sedikit pengunjung yang datang ke Bunga Desa. Dengan tiket sebesar Rp5.000, pengunjung sudah bisa masuk taman bunga dan memetik setangkai bunga. Rencananya Bunga Desa Farm akan menyediakan aktivitas pelatihan cara bercocok tanam bunga atau yang lainnya bagi masyarakat dan pengunjung yang datang.

Kampung Mendha

Kampung Mendha merupakan peternakan domba yang terletak di Dusun Kedungbulu, Desa Kumejing. Peternakan domba ini berbeda dari peternakan kebanyakan. Domba-domba Kampung Mendha tidak mengeluarkan bau yang tidak sedap, karena domba di sini diberi pakan ternak khusus.

Kampung Mendha sehari-hari dijalankan oleh Tim Cah Angon, pemuda-pemuda dari Dusun Kedungbulu. Di sebelah kandang domba, terdapat pula Paseban Cah Angon, semacam gazebo yang biasa dijadikan tempat warga berkumpul dan dijadikan tempat untuk pelatihan. Selain itu, di sini juga terdapat Kriya Cah Angon, tempat di mana Tim Cah Angon memanfaatkan hasil alam yaitu bambu untuk dijadikan berbagai kerajinan, seperti meja, kursi, dan lukisan. Tim Cah Angon kedepannya akan membuat pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan cara beternak, bercocok tanam, dan kerajinan bambu untuk warga atau wisatawan yang berkunjung di kawasan Kampung Mendha.

Design a site like this with WordPress.com
Get started